Showing posts with label ikan rawa. Show all posts
Showing posts with label ikan rawa. Show all posts

Wednesday, November 21, 2012

Ikan Baung (Hemibagrus nemurus)

Ikan Baung merupakan jenis ikan air tawar termasuk kedalam marga Hemibagrus, suku Bagridae. Ikan ini masih sekerabat dengan ikan lele (bangsa siluriformes) yang sekilas mirip dengan adanya sungut dan patil di mulutnya. Di Indonesia, ikan ini dikenal dengan banyak nama menurut daerahnya seperti ikan duri, baong, baon (melayu), bawon (Betawi), senggal atau singgah (Sunda), tagih atau tageh (Jawa), niken, siken, tiken atau tiken bato (Kal-Teng), dll.

Dalam taksonomi (Sistem penamaan), Ikan baung mengalami beberapa pergantian nama ilmiah. Nama ilmiah yang pertama kali disandangnya adalah Macrones nemurus (Weber & de Beaufort 1916), lalu berubah menjadi Mystus nemurus (Roberts, 1989; kottelat. et. al, 1993). Setelah itu berubah lagi menjadi Hemibagrus nemurus (Kottelat & Whitten, 1996; Rahmatika. et. al, 2005). Nama yang terakhir inilah yang dinyatakan valid untuk ikan baung.

Nama-nama ikan baung sebelumnya seperti macrones nemurus dan mystus nemurus sudah tidak digunakan lagi, hanya dinyatakan sebagai nama sinonim.

Klasifikasi Ilmiah

Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Subkelas : Toleostei
Ordo : Siluriformes
 Famili : Bagridae
Genus : Hemibagrus
Species : Hemibagrus nemurus.

Sumber : animhosnan.blogspot.com
Marga Hemibagrus pada mulanya dianggap satu dengan marga Mystus (ikan-ikan keting atau lundu), atau yang sebelunya dikenal sebagai Macrones. Marga ini dipisahkan, salah satunya ialah karena anggotanya yang dewasa pada umumnya memiliki tubuh yang besar. sejenis baung dari indocina bagian tengah, Hemibagrus wyckioides, diketahui jenis baung terbesar yang dapat mencapai bobot tubuh 80 kg. 

Ikan baung agak mirip dengan ikan lele, memiliki kepala yang memipih agak mendatar dengan bagian tulang tengkorak yang kasar  di atas kepala tak tertutupi kulit, dan sirip lemak yang berukuran sedang berada dibelakang sirip punggung (dorsal). Baung bertubuh licin tanpa sisik di tubuhnya dan serupa dengan lundu dan patin. Baung memiliki tiga sirip yang berbisa atau disebut dengan patil, yakni pada sepasang sirip dadanya, dan sebuah lagi berada di awal sirip punggung.


Baung adalah ikan air tawar yang dapat hidup dari perairan di muara sungai sampai kebagian hulu. Bahkan di sungai musi (Sumatera Selatan), baung ditemukan sampai kemuara sungai di daerah pasang surut yang berair sedikit payau. Selain itu ikan ini juga banyak ditemui ditempat-tempat yang letaknya di daerah banjir. Ikan Baung berhasil hidup dikolam yang dasarnya pasir dan batuan. Di Jawa Barat, Baung banyak ditemukan di Sungai Cidurian dan Jasinga Bogor yang airnya cukup dangkal (45 cm) dengan kecerahan 100%. Secara umum, baung dinyatakan sebagai ikan yang hidup di perairan umum seperti sungai, rawa, situ, danau dan waduk.

Ikan Baung suka bergerombol didasar perairan dan membuat sarang berupa lubang di dasar perairan yang lunak dengan aliran air yang tenang. Ikan baung menyukai tempat-tempat yang tersembunyi dan tidak aktif keluar sarang seblum petang. Setelah hari gelap, ikan baung akan keluar dengan cepat untuk mencari mangsa, tetapi tetap berada disekitar sarang dan segera akan masuk kesarang apabia ada gangguan. Distribusi geografis ikan baung, selain di perairan Indonesia, ikan baung juga terdapat di Hindia Timur, Malaya, Indocina dan Thailand.
Sumber : shw.undervvip.fotopages.com
Nokturnal (aktif malam hari) juga merupakan sifat ikan baung. Ikan ini beraktivitas (mencari makan, dll) lebih banyak dilakukan pada malam hari. Selain itu, baung juga memiliki sifat suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai tempat habitat hidupnya. Di alam, ikan baung temasuk pemakan segala (omnivora). Nmaun ada juga yang menggolongkannya ikan carnivora, karena lebih dominan memakan hewan-hewan kecil sepeti ikan-ikan kecil, udang, udang kecil, remis, insekta, mollusca dll.

Pola pertumbuhan ikan baung adalah allometrik (b>3), yaitu pertambahan berat lebih cepat dari pertambahan panjang badan. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, ikan baung jantan berpola isometrik (b=3), di mana pertambahan berat sebanding dengan pertambahan panjang badan.

Ukuran ikan baung berhubungan dengan agresivitasnya dalam mencari makan dan kematangan gonad. Karena harga b di atas 3, maka pertumbuhan ikan baung lebih cepat dari pada panjang badan. Dengan demikian, faktor makanan memegang peranan yang sangat penting. Jika ikan baung semakin banyak mendapat makanan, pertumbuhan beratnya semakin tinggi. Karena itu ikan baung berukuran besar cenderung lebih agresif mencari makan sehingga pertumbuhannya berpola allometrik.



Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ikan baung adalah kematangan gonad. Ikan baung betina memiliki pola pertumbuhan allometrik. Hampir 77% ikan baung betina mengandung telur, sehingga berat telur tersebut mempengaruhi pertumbuhannya. Hal ini juga menyebabkan pola pertumbuhan ikan baung (jantan dan betina) berpola allometrik. Pada waktu musim memijah, pola pertumbuhan ikan baung betina bisa berbeda dengan ikan baung jantan.

Jenis kelamin ikan baung dapat di ketahui dengan dua cara, yaitu dengan dengan membelah perut dan memeriksa gonadnya dan dengan mengamati ciri-ciri morfologis. Gonad ikan baung betina dan ikan baung jantan terletak di rongga perut bagian dorsal intestin. Gonad ikan baung dapat diperiksa setelah ikan baung tersebut berukuran 90 g atau kira-kira panjangnya 20 cm. Ikan baung yang lebih kecil dari ukuran tersebut dapat di bedakan dengan mengamati lobang genital (genital pore).

Pada ikan baung jantan, lobang genital agak memanjang dan terdapat bagian yang meruncing kearah caudal. Alat ini merupakan alat bantu untuk mentransfer sperma. Sedangkan Ikan baung betina, lobang genitalnya berbentuk bulat. Lobang genital ini akan berwana kemrah-merahan apabila ikan baung betina tersebut sudah mengandung telur pada Tingkat Kematangan Gonad (TKG) V. Kromosom berjumlah 23 pasang yang terdiri atas 2 pasang kromosom metasentrik, 6 pasang kromosom akrosentrik, dan 15 pasang kromosom telosentrik.

Sumber : iftfishingforum.com
Salah satu jenisnya, yakni ikan baung putih (Hemibagrus nemurus) telah berhasil dikembangkan pembenihannya dan dibudidayakan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Suka Bumi semenjak tahun 1998.

Di Asia Tenggara, baung merupakan ikan konsumsi yang penting. Tekstur dagingnya yang lembut, tebal berwara putih tanpa duri halus, sehingga membuat ikan ini banyak di gemari masyarakat. Berbagai masakan ikan baung yang terkenal enak di antaranya adalah Pindang baung dari Sumatera Selatan, dan baung asam padeh dari Riau, serta ikan baung panggang dari Kalimantan. Selain itu, ikan baung juga biasa di jadikan ikan asap.

Baung Picture

Asam Padeh Ikan Baung / Sumber : kulinerkita.multiply.com
Gulai Ikan Baung / Sumber : yukigazkins.blogspot.com
Pindang Baung / Sumber : wisata.kompasiana.com



Referensi :
Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, Agromedia Pustaka, 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Baung
http://www.iftfishing.com/fishing-guide/fishypedia/ikan-baung
http://hobiikan.blogspot.com/2009/07/klasifikasi-ikan-baung.html
http://pemancing.com/ikan-baung

Thursday, August 30, 2012

Ikan Sepat

peluang usaha

Ikan Sepat merupakan ikan yang hidup di air tawar dan termasuk dalam golongan marga Trichogaster, anggota suku gurami Osphronemidae. Di indonesia ikan ini dikenal sebagai ikan konsumsi. dan beberapa jenisnya di perdagangkan sebagai ikan hias. Ikan ini banyak dikenal dengan nama-nama lokal seperti sepat sawah/rawa, sepat jawa, sepat biru, sepat ronggeng (Melayu), sapek (Minang) dan lain-lain. Dalam perdagangan ikan hias bergantung pada varietasnya, ikan ini dikenal dengan nama-nama (Ingg.) seperti Three spot gourami, Blue gourami, Cosby gourami, Gold gourami, Golden gourami, serta Opaline gourami. Sepat semula digolongkan ke dalam suku Belontiidae, bersama cupang dan kerabatnya. Akan tetapi sekarang suku ini telah digabungkan ke dalam suku Osphronemidae, yang juga mencakup gurami dan sepat kerdil (Colisa).  

Marga Trichogaster berkerabat dekat dengan marga Colisa; anggota kedua marga ini sama-sama memiliki sirip perut berupa cambuk. Namun marga Trichogaster memiliki sirip punggung yang relatif lebih pendek, dan individu dewasanya berukuran jauh lebih besar daripada Colisa.

Filum :Chordata
Kelas:Actinopterygii
Ordo:Perciformes
Sub ordo:Anabantoidei
Famili:Osphronemidae
Sub famili:Luciocephalinae
Genus:Trichogaster
Bloch & Schneider, 1801

Sebagaimana kerabat-kerabat dekatnya, yakni tambakan, betok, gurami, dan cupang, sepat tergolong ke dalam anak bangsa Anabantoidei. Kelompok ini dicirikan oleh adanya organ labirin (labyrinth) di ruang insangnya, yang amat berguna untuk membantu menghirup oksigen langsung dari udara. Adanya labirin ini memungkinkan ikan-ikan tersebut hidup di tempat-tempat yang miskin oksigen seperti rawa-rawa, sawah dan lain-lain. 

Sumber : Sumber : http://budakgetah2.blogspot.com/
Ciri ciri umum ikan sepat bertubuh pipih jorong dengan moncong runcing dan mulut kecil. Sisik kecil-kecil, bersusun miring, dalam aneka ukuran. Gurat sisi sempurna, bentuk tabung yang kadang-kadang agak lengkung. Sirip punggung (dorsal) terletak jauh ke belakang, namun berakhir agak jauh di depan sirip ekor.  Sirip perut (ventral) berubah bentuk; sepasang jari-jari lunak yang pertama berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk panjang sepanjang badan, ditambah dengan sepasang duri pendek dan beberapa pasang jumbai pendek yang tak seberapa terlihat. Sirip dubur (anal) memanjang mulai dari di bawah dada hingga pangkal ekor. Sirip dada (pectoral) kurang lebih meruncing, sementara sirip ekor sedikit bercabang. 

Ikan jenis ini hidupnya bergerombol di rawa-rawa, danau, aliran-aliran air yang tenang, dan umumnya lahan basah di dataran rendah termasuk sawah-sawah serta saluran irigasi. Biasanya sepat berkumpul di dekat tanaman air seperti kangkung, eceng gondok dan sejenisnya. 

Selain tempat makan, tanaman tersebut juga dijadikan tempat untuk menyimpan telur mereka saat berkembang biak. Pada musim berbiak, ikan jantan membangun sebuah sarang busa untuk menampung dan memelihara telur-telur sepat betina, yang dijagainya dengan agresif.

Di saat musim banjir, penyebarannya meluas mengikuti aliran banjir. Ikan Sepat memangsa zooplankton, krustasea kecil dan aneka larva serangga. 

Ikan sepat banyak tersebar di bagian Indocina, terutama di lembah Sungai Mekong di Cambodia atau Kamboja, dan di Indonesia Barat, yakni di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sekitar tahun 1938, ikan sepat ini dimasukkan ke Danau Tondano dan tempat-tempat lain di Sulawesi.

Beberapa spesies dari jenis ikan sepat yang diketahui yaitu sepat siam, sepat rawa dan sepat mutiara. Sepat mutiara banyak dipergunakan sebagai pajangan ikan hias di akuarium krena jenis ini memiliki varian warna yang menarik. Berikut beberapa gambar varietas ikan sepat :


Sepat Rawa/ http://id.wikipedia.org, & http://dayat-day.blogspot.com
Sepat mutiara/ http://clubbing.kapanlagi.com & koranbergambar.blogspot.com

Sepat Siam/ myfishing.org & http://hanyfly.blogspot.com


Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Sepat
http://www.iftfishing.com/fishing-guide/pemula/mancing-sepat
http://clubbing.kapanlagi.com/threads/104363-IKAN-SEPAT-%28ikan-lokal%29











Tuesday, August 28, 2012

Ikan Mujair

Ikan mujair merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, yang juga ikan ekonomis penting dan dikenal cukup luas oleh masyarakat di Indonesia. Ikan ini sekilas sangat mirip dengan ikan nila karena masih kerabat dekat yaitu satu genus Oreochromis. ikan mujair berasal dari Afrika dan secara alami banyak ditemukan di sungai - sungai di wilayah Mozambik. Bentuk badan pipih dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. Pertama kali di Indonesia ditemukan oleh bapak Mujair di muara sungai Serang pantai selatan Blitar Jawa Timur pada tahun 1939. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis mossambicus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Mozambique tilapia, atau kadang-kadang secara tidak tepat disebut "Java tilapia".

Klasifikasi Ilmiah

Kelas           : Pisces
Sub kelas    : Teleostei
Ordo           : Percomorphi
Sub-ordo    : Percoidea
Famili         : Cichlidae
Genus         : Oreochromis
Species       : Oreochromis mossambicus

Ikan mujair memiliki bentuk tubuh seperti torpedo berukuran sedang dengan panjang total maksimum yang dapat dicapai adalah sekitar 40 cm. Bentuk badannya pipih dengan warna hitam, keabu-abuan, kecoklatan atau kuning.

Sirip punggungnya (dorsal) memiliki 15-17 duri (tajam) dan 10-13 jari-jari (duri berujung lunak); dan sirip dubur (anal) dengan 3 duri dan 9-12 jari-jari.

Sumber : http://carabudidaya.com
Ikan ini mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinitas. Jenis ikan ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih cepat, tetapi setelah dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun.

Sebagai ikan introduksi, mujair pertama Kali ditemukan di daerah Blitar selatan. Nama mujair diberikan sebagai penghargaan kepada bapak Mujair yang pertama kali menemukannya pada tahun 1939. Di Indonesia Mujair merupakan ikan yang dibudidayakan di kolam air tawar dan di tambak air payau. 

Di habitat aslinya, mujair banyak ditemukan hidup liar di berbagai perairan air tawar, mulai dari danau, waduk, situ, rawa maupun sungai. Selain itu, mujair juga dapat ditemukan di air payau seperti di tambak atau muara sungai. 

Kemampuan hidup di air payau tersebut sangat dimungkinkan karena mujair memiliki toleransi yang besar terhadap berbagai tingkat salinitas air. Bahkan, masuknya ikan ini ke Indonesia diduga terjadi melalui laut (Samudera. Hindia), kemudian masuk ke perairan payau di selatan Jawa (Blitar).

Kriswantoro dan Sunyoto,(1986) menuliskan, Ikan mujair hidup di sekitar dasar perairan dan permukaan perairan laut, tergolong ikan pelagis yang mengkehendaki perairan bersalinitas tinggi, suka hidup secara bergerombol baik diperairan pantai maupun dilepas pantai.    

Sumber : http://www.jengker.com
Mujair juga sangat peridi. Ikan ini mulai berbiak pada umur sekitar 3 bulan, dan setelah itu dapat berbiak setiap 1½ bulan sekali. Setiap kalinya, puluhan butir telur yang telah dibuahi akan ‘dierami’ dalam mulut induk betina, yang memerlukan waktu sekitar seminggu hingga menetas. Hingga beberapa hari setelahnya pun mulut ini tetap menjadi tempat perlindungan anak-anak ikan yang masih kecil, sampai anak-anak ini disapih induknya.

Dengan demikian dalam waktu beberapa bulan saja, populasi ikan ini dapat meningkat sangat pesat. Apalagi mujair cukup mudah beradaptasi dengan aneka lingkungan perairan dan kondisi ketersediaan makanan.

Tidak mengherankan apabila ikan ini dianggap invasif dan menimbulkan berbagai masalah baru di perairan yang didatanginya, seperti halnya di Singapura, dan di California Selatan, Amerika Serikat. Tidak luput pula adalah berbagai waduk dan danau-danau di Indonesia yang 'ditanami' ikan ini, seperti misalnya Danau Lindu di Sulawesi Tengah.

Mujair termasuk ikan pemakan segala (omnivore) yang memiliki sifat rakus terhadap pakan. Pakan utamanya adalah lumut-lumutan, tumbuhan air, serta serangga dan hewan kecil seperti cacing.


Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Mujair
http://hobiikan.blogspot.com/2009/10/ikan-mujair.html
http://www.warintek.ristek.go.id/perikanan/air%20tawar/mujair.pdf
http://dc271.4shared.com/doc/mmJBHm27/preview.html

Sunday, August 26, 2012

Ikan Tawes

Ikan tawes (Barbonymus goniono Bleeker, 1850) adalah ikan sungai yang biasa dikonsumsi di daerah Asia Tenggara. Ukurannya sedang dan mudah dibudidayakan di kolam-kolam. Menurut catatan FAO, ikan ini pernah diintroduksi ke Filipina (1956) dan ke India (1972). Ikan ini masih berkerabat dengan ikan nilem. Pieter Bleeker telah mengidentifikasi hewan ini pada abad ke-19 dan memberi nama berbeda untuk yang ditemukan di Indonesia (Barbus gonionatus, dengan alternatif Puntius gonionatus, Barbonymus gonionatus, serta Barbodes gonionatus, 1850), dan di Jawa (Barbus javanicus, dengan alternatif Puntius javanicus, 1855). Garibaldi (1996) merevisi P. gonionatus sebagai Barbus gonionatus], namun Kottelat (1999) merevisi kembali dengan menggabungkan kedua spesies dengan dua spesies lain sebagai satu spesies, Barbonymus gonionatus. Nama terakhir ini adalah nama yang dianggap valid.

Nama-nama lainnya, di antaranya lawak, lalawak (melayu); turub hawu (Sunda.); dan tawes, badir (Jawa.). Ada juga yang menyebutnya lampam jawa. Dalam bahasa Inggris, ikan ini dinamai Java Barb, Silver Barb, atau juga Tawes. Ikan ini juga masih berkerabat dengan ikan nilem.

Klasifikasi ilmiah

- Kerajaan   : Animalia
- Filum        : Chordata
- Kelas         : Actinopterygii
- Ordo         : Cypriniformes
- Famili       : Cyprinidae
- Genus       : Barbonymus
- Spesies     : Barbonymus gonionotus (Bleeker, 1850)

Barbus gonionotus Bleeker, 1850
Barbus javanicus Bleeker, 1855
Barbus koilometopon Bleeker, 1857
Puntius jolamarki Smith, 1934
Puntius viehoeveri Fowler, 1943

Bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi,kepala kecil, moncung meruncing, mulut kecil terletak pada ujung hidung, sungut sangat kecil atau rudimenter. Di bawah garis rusuk terdapat sisik 5½ buah dan 3-3½ buah diantara garis rusuk dan permulaan sirip perut. Garis rusuknya sempurna berjumlah antara 29-31 buah. Badan berwarna keperakan agak gelap di bagian punggung. Pada moncong terdapat tonjolan-tonjolan yang sangat kecil. Sirip punggung dan sirip ekor berwarna abu-abu atau kekuningan, sirip dada berwarna kuning dan sirip dubur berwarna oranye terang. 
Bagian Depan Ikan Tawes

Bagian Belakang Ikan Tawes
Sumber : http://id.wikipedia.org
Di alam, tawes ditemukan hidup di jaringan sungai dan anak-anak sungai, dataran banjir, hingga ke waduk-waduk. Agaknya ikan ini menyukai air yang diam menggenang. Tercatat pula migrasi ikan ini meski tidak terlampau jauh, yakni dari sungai besar ke anak-anak sungai, saluran, dan dataran banjir, khususnya di awal musim hujan. Penyebaran alaminya tercatat di Sungai Mekong, Chao Phraya, Semenanjung Malaya, Sumatera dan Jawa.

Tawes bersifat herbivora, utamanya memakan tumbuh-tumbuhan seperti Hydrilla, aneka tumbuhan air, dan daun-daunan yang terjatuh ke sungai. Tawes mau juga memangsa aneka invertebrata. Suhu air yang ideal untuk hidupnya antara 22-28 °C.

Sifatnya sebagai herbivora dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan gulma air. Penelitian yang dilakukan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, mendapatkan bahwa ikan tawes dan nilem yang tidak diberi pakan secara khusus telah memakan aneka fitoplankton yang terdapat di danau, sehingga jenis-jenis ikan ini berpeluang untuk digunakan sebagai pembersih air danau

Meski sebenarnya ikan tawes adalah ikan yang termasuk herbivore atau pemakan tumbuhan, namun ikan tawes yang sudah dikembang biakkan di kolam dapat diberi makan pelet atau makanan alami berupa daunt talas. Perkembangan ikan di kolam akan jauh lebih cepat karena pola makan yang cukup dan teratur dan tujuannya adalah sebagai ikan konsumsi menyebabkan ikan tawes jarang di gunakan sebagai ikan pancingan di kolam–kolam pancing.

Ikan ini termasuk satu dari lima jenis ikan air tawar terpenting dari pemeliharaan di Thailand. Sebagaimana ikan nila, tawes mudah dipelihara tanpa memerlukan teknik yang rumit dan mahal, menjadikannya ikan kolam yang populer di Bangladesh. Taksiran produksi ikan tawes dari pemeliharaan di wilayah Asia Tenggara dan Bangladesh adalah lebih dari 50.000 ton di tahun 1994.

Bebrapa jenis ikan tawes



Sumber : http://jejakpetualangsungai.blogspot.com

Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Tawes
http://www.kkp.go.id/ikanhias/index.php/products/price/12/Ikan-Tawes-Puntius-Gonionotus/
pemancing.com/ikan-tawes
http://www.iftfishing.com/fishing-guide/fishypedia/tawes

Friday, August 24, 2012

Ikan Betok

Ikan betok adalah sejenis ikan air tawar yang hidup liar di kali, waduk dan danau alam. Ikan betok jarang sekali dipelihara sebagai ikan piaraan. Ikan betok termasuk ikan yang memiliki sifat sebagai ikan pemangsa atau karnivora. Ikan betok memiliki nama lain yaitu ikan betik (jawa), ikan puyu ( melayu ) atau ikan pepuyu ( bahasa banjar ) dan dalam bahasa Inggris, ikan ini memiliki nama Climbing Gouramy karena kemampuan ikan betok yang bisa memanjat ke daratan. Dalam bahasa latin ikan ini memiliki nama Anabas Testudineus. Sekilas ikan ini mirip dengan  ikan mujair dengan warna belang di sepanjang tubuhnya. Ikan betok memiliki warna agak gelap dengan warna kuning di bagian bawah tubuhnya garis – garis gelap melintang secara samar di permukaan kulitnya. Ukuran tubuhnya kira- kira sebesar telapak tangan dengan ukuran maksimal sepanjang 25 cm. 

Klasifikasi Ilmiah

Kelas           : Pisces 
Subkelas     : Teleostei 
Ordo             : Labyrinthici 
Subordo      : Anabantoidei 
Famili           : Anabantidae 
Genus          : Anabas 
Spesies       : Anabas testudineus (Bloch 1792) 
Nama lokal  : Betok, puyu

Sisi atas tubuh (dorsal) gelap kehitaman agak kecoklatan atau kehijauan. Sisi samping (lateral) kekuningan, terutama di sebelah bawah, dengan garis-garis gelap melintang yang samar dan tak beraturan. Sebuah bintik hitam (kadang-kadang tak jelas kelihatan) terdapat di ujung belakang tutup insang. Sisi belakang tutup insang bergerigi tajam seperti duri.

Sumbe : http://ikan-betok.blogspot.com/
Ikan betok merupakan jenis ikan agresif dan dapat ditemui di berbagai macam perairan. Habitat alami ikan ini adalah sungai yang berumput, sungai kecil, kolam, parit irigasi, rawa banjiran, dan berbagai daerah perairan lainnya. Hal ini didukung oleh adanya labyrinth pada ikan betok yang memungkinkan untuk dapat hidup di berbagai wilayah perairan walaupun kondisi perairan tersebut defisit oksigen dan tidak memungkinkan bagi ikan lain untuk hidup di daerah tersebut. Ketika malam, ikan ini juga dapat meninggalkan wilayah perairan dengan mengembara ke daratan sejauh 180 cm dari air. 

Di Indonesia, ikan ini dapat ditemukan di Sulawesi, Daratan Sunda, Sumatra, Kalimantan, dan termasuk ikan introduksi untuk Irian Jaya.

Penyebaran ikan betok di dunia cukup luas mulai dari India, Tiongkok, Srilangka, Cina bagian Selatan, Philipina, Asia Tenggara lainnya, dan juga sepanjang garis Wallacea. Ikan ini merupakan ikan asli di wilayah Asia Tenggara, Sri Langka, Filipina, Cina dan ikan introduksi di wilayah Timur (Papua Nugini). Ikan ini menyebar di kepulauan Indo-Australia.

Ikan betok dalam keadaan normal menggunakan insang sebagai alat untuk bernafas, namun dalam kondisi ekstrim ia menggunakan labirynth yang dimiliki terletak di bagian kepalanya yang berfungsi untuk mengambil oksigen langsung di udara. Dengan cara ini pula ia bertahan hidup dalam kondisi air yang minim dan sesekali berpindah dengan menggunakan siripnya sebagai alat untuk bergerak. Namun daya kekuatannya didaratan hanya beberapa jam saja , jika terlalu lama maka ia akan mati.

Sumber : http://ikan-betok.blogspot.com/
Ikan ini memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil. Menurut Jhingran (1975), ikan betok di India memiliki jenis makanan yang berbeda pada setiap fase hidupnya. Pada masa larva, ikan betok akan memakan protozoa, dan kutu air. Kemudian ketika pada tahap juvenil, ikan betok akan memakan nyamuk atau insekta air lainnya misalnya kutu air. Pada tahap dewasa, ikan akan memakan insekta, kutu air, fragmen tumbuhan, serta ikan. Namun, secara keseluruhan makanan utamaikan betok adalah serangga. Hasil penelitian Samuel et al. (2002) juga disebutkan bahwa berdasarkan analisa organisme makanan ikan betok yang terdapat di Danau Arang-Arang, Jambi adalah dominan detritus, kemudian juga terdapat cacing dan ikan. Axelrod et al. (1983) mengemukakan bahwa pada tahap larva, ikan betok memakan alga kecil bersel tunggal, selanjutnya alga besar bersel tunggal atau alga bersel banyak.

Cara mendapatkan ikan ini pada kebanyakan daerah dengan dipancing berumpan cacing, akan tetapi ada juga dengan menggunakan jangkrik, cilung (ulat bambu). Di Kalimantan Tengah dan Banjarmasin, penduduk setempat mempunya cara tersendiri, yakni dengan mencampur telur semut (kroto) dengan getah karet dan dimasak dengan cara dikukus. Selain untuk ikan betok, umpan ini juga dapat sebagai umpan ikan seluang.

sebutan ikan betok di beberapa negara;

Alalo Philippines Pangasinan
Alito Philippines Kuyunon
Arraro Philippines Ilokano
Atas Philippines Bikol
Bale belang Indonesia Makassarese
Betik Indonesia Javanese
Betok Indonesia Malay
Cá Rô d?ng Viet Nam Vietnamese
Cá ro dong Viet Nam Vietnamese
Cá rô dông Viet Nam Vietnamese
Climbing perch Bangladesh English
Climbing perch Sri Lanka English
Climbing perch India English
Climbing perch Malaysia English
Climbing perch Papua N Guinea English
Climbing perch UK English
Climbing perch USA English
Gutan Philippines Visayan
Kabai Nepal Nepali
Kallemutti India Malayalam
Karippidi India Malayalam
Karooppu India Malayalam
Kavaiya Sri Lanka Sinhalese
Khakoi India Khasi
Kletterfisch Germany German
Klätterfisk Sweden Swedish
Koi Bangladesh Bengali
Koi India Assamese
Koi India Bengali
Kranh Cambodia Khmer
Krucilan Indonesia Javanese
Laziec Poland Polish
Liwalo Philippines Kapampangan
Liwalo Philippines Tagalog
Martiniko Philippines Tagalog
Nga-bye-ma Myanmar Burmese
Nga-pri Myanmar Burmese
Pa kheng Laos Laotian
Panaiyeri kendai India Tamil
Pepuyu Malaysia Malay
Piit Philippines Maranao/Samal/Tao Sug
Pla mor Thailand Thai
Pla mor Thai Thailand Thai
Pla sadet Thailand Thai
Puyo Philippines Bikol
Puyo Philippines Maranao/Samal/Tao Sug
Puyo Philippines Tagalog
Puyo Philippines Visayan
Puyo-puyo Philippines Maranao/Samal/Tao Sug
Puyu Malaysia Malay
Ryba-polzun Russian Fed Russian
Tinikan Philippines Tagalog
Trey kranh Cambodia Khmer
Trey kranh srai Cambodia Khmer
Ukabi India Manipuri

Masyarakat Banjar dan pesisir Kalimantan Tengah memiliki menu khas dari ikan betok (pepuyu dalam bahasa setempat). Pepuyu bakar terkenal sebagai masakan yang enak dari daerah Banjarmasin. Dikenal pula wadi pepuyu, ikan betok yang dibuang sisik, jerohan, dan insangnya dan difermentasi dengan bantuan garam dalam wadah beling. Wadi pepuyu dimasak sesuai selera, digoreng atau disayur.




Sumber : http://ikan-betok.blogspot.com/



Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Betok
http://www.zonalaut.com/biologi-laut/riset/ikan-betok-anabas-testudineus-bloch-1792
http://pemancing.com/ikan-betok
http://ikan-betok.blogspot.com/
http://zonaikan.wordpress.com/2012/06/11/klasifikasi-ikan-betok/
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/5246/C08lmb.pdf?sequence=4

Thursday, August 23, 2012

Ikan Gabus

Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan gabus dikenal dengan banyak nama. Ada yang menyebutnya sebagai aruan, haruan (Melayu dan Banjar), kocolan (Betawi); bayong, bogo, licingan, kutuk (Jawa); dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris, belut juga disebut dengan berbagai nama, seperti common snakehead, snake-head murrel, chevron snakehead, striped snakehead juga aruan. Name ilmiahnya adalah Channa striata (Bloch, 1793) dan ada yang menyebutnya Ophiocephalus striatus. Ada beberapa jenis gabus. Channa striata merupakan jenis ikan gabus yang banyak ditemui dan memiliki ukuran tubuh relatif kecil. Jenis lain adalah gabus toman Channa micropeltes dan Channa pleuropthalmus. Gabus toman merupakan jenis gabus yang berukuran tubuh besar, mencapai panjang 1 meter dengan berat 5 kg.

Klasifikasi Ilmiah
Kelas           : Pisces
Subkelas     : Actinopterygii
Ordo            : Perciformes
Famili          : Channidaeae
Genus         : Channa
Species      : Channa striata/ Ophiocephalus striatus

Ikan gabus memiliki kepala berukuran besar dan agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead). Terdapat sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh berbentuk bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali atau torpedo. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya. Sisi atas tubuh dari kepala hingga ke ekor berwarna gelap, hitam kecokelatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata). Warna ini sering kali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.

Sumber : http://acupofchocolate.wordpress.com
Ikan gabus biasa ditemukan di perairan umum sebagai ikan liar. Banyak ditangkap di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Di Indonesia, ikan gabus awalnya hanya terdapat di barat garis Wallacea (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan). Namun dalam perjalanan waktu, ikan gabus diintroduksi (dimasukkan) ke wilayah Indonesia Timur.

Pada beberapa daerah yang dilalui aliran sungai besar seperti di Sumatera dan Kalimantan, ikan gabus seringkali terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui "berjalan" di daratan khususnya di malam hari di musim kemarau mencari tempat lain yang masih berair. Ikan gabus bisa bertahan hidup tanpa air karena bisa bernapas menyerap oksigen bebas menggunakan alat bantu pernapasan berupa "labirin". 

Pada musim kawin, ikan gabus jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan di tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijaga oleh induknya.


Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.

ikan gabus juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu ikan gabus segar, kebanyakan dijual dalam keadaan hidup, merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berawa atau sungai.

Pada aktifitas pemancingan, Ikan gabus juga merupakan ikan pancingan yang menyenangkan. Dengan umpan hidup berupa serangga atau anak kodok, gabus relatif mudah dipancing. Namun giginya yang tajam dan sambaran serta tarikannya yang kuat, dapat dengan mudah memutuskan tali pancing.Untuk masyarakat desa yang khususnya petani, ikan gabus sangat membantu memusnahkan hama, misalnya: sawah yang banyak di huni oleh hama keong, sering kali berujung dengan gagal panen, akibat dari ulah keong yang sering memakan padi, terutama di usia muda. Namun beberapa petani menemukan cara yang cukup mudah dan sangat membantu, yaitu, dengan mengembang biakan ikan gabus di sawah-sawah yang sedang di garapnya, dengan demikian keong-keong yang banyak merugikan petani sedikit demi sedikit akan berkurang.

Sumber : http://indonetwork.co.id/
Akan tetapi ikan ini juga dapat sangat merugikan, yakni apabila masuk ke kolam-kolam pemeliharaan ikan (Meskipun beberapa kerabat gabus di Asia juga sengaja dikembangbiakkan sebagai ikan peliharaan). Gabus sangat rakus memangsa ikan kecil-kecil, sehingga bisa menghabiskan ikan-ikan yang dipelihara di kolam, utamanya bila ikan peliharaan itu masih berukuran kecil.

Sejak beberapa tahun yang lalu di Amerika utara, ikan ini dan beberapa kerabat dekatnya yang sama-sama termasuk snakehead fishes diwaspadai sebagai ikan berbahaya, yang dapat mengancam kelestarian biota perairan di sana. Jenis-jenis snakehead sebetulnya masuk ke Amerika sebagai ikan akuarium. Kemungkinan karena kecerobohan, maka kini snakehead juga ditemui di alam, di sungai-sungai dan kolam di Amerika. Dan karena sifatnya yang buas dan invasif, Pemerintah Amerika khawatir ikan-ikan itu akan cepat meluas dan merusak keseimbangan alam perairan.

Diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama dalam proses penyembuhan luka-luka. Pemberian daging ikan gabus atau ekstrak proteinnya telah dicobakan untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah dan membantu penyembuhan beberapa penyakit.


Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_gabus
http://budidayanews.blogspot.com/2011/03/cara-ternak-ikan-gabus.html
http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-ikan-gabus.html